Anonim

Para ilmuwan menggunakan bakteri untuk menciptakan bahan bakar dari sinar matahari dan CO2

Lingkungan Hidup

Ben Coxworth

25 Maret 2011

Bakteri Shewanella, yang menghasilkan keton yang diolah menjadi bahan bakar
(Gambar dari 'Budidaya Bakteri Rasa untuk Limbah Beracun')

Para peneliti dari University of Minnesota telah mengumumkan terobosan dalam upaya untuk menciptakan alternatif bahan bakar yang layak menggunakan gas rumah kaca. Proses ini menggunakan dua jenis bakteri untuk membuat hidrokarbon dari sinar matahari dan karbon dioksida. Hidrokarbon tersebut pada gilirannya dapat dijadikan bahan bakar, yang oleh para ilmuwan disebut "minyak terbarukan."

Prosesnya dimulai dengan Synechococcus, bakteri fotosintetik yang memperbaiki karbon dioksida di bawah sinar matahari, kemudian mengubah CO2 menjadi gula. Gula tersebut kemudian diteruskan ke bakteri lain, Shewanella, yang mengkonsumsinya dan menghasilkan asam lemak. Mahasiswa lulusan biokimia University of Minnesota, Janice Frias, menemukan cara menggunakan protein untuk mengubah asam-asam itu menjadi keton, sejenis senyawa organik. Rekan-rekannya di College of Science and Engineering universitas telah mengembangkan teknologi katalitik yang memungkinkan mereka mengubah keton menjadi bahan bakar diesel.

"CO2 adalah gas rumah kaca utama yang memediasi perubahan iklim global, sehingga menghilangkannya dari atmosfer baik untuk lingkungan, " kata penasihat Frias, Prof Larry Wackett. "Ini juga gratis. Dan kita bisa menggunakan infrastruktur yang sama untuk memproses dan mengangkut bahan bakar hidrokarbon baru ini yang kita gunakan untuk bahan bakar fosil."

Universitas sedang dalam proses pengajuan hak paten atas proses tersebut.

Penelitian ini diterbitkan dalam edisi mendatang Journal of Biological Chemistry .

Bakteri Shewanella, yang menghasilkan keton yang diolah menjadi bahan bakar
(Gambar dari 'Budidaya Bakteri Rasa untuk Limbah Beracun')

Direkomendasikan Pilihan Editor